A Dog Named Timmy (sakit)

Aku mengadopsi Timmy hari Sabtu malam. Kutu di tubuhnya sebagian besar sudah hilang (terutama caplak yang memenuhi telinga), tapi dia masih belum bersih sempurna. Bulunya kucel dan ada bulu yang kaku dan mengeras di punggung, entah karena luka dan bernanah, atau ketumpahan sesuatu.

Jadi hari Minggu paginya aku kembali bersihin semua kutu yang tersisa dan mandikan Timmy. Bodohnya, aku memandikan Timmy sebelum pukul 10 pagi. Aku memandikan dia dengan air suam kuku dan langsung aku lap handuk, jadi kupikir ga akan apa-apa.

Setelah itu pun Timmy masih main ke sana kemari dan aktif banget. Aku senang.

Hari Senin dia masih makan banyak sampai perutnya penuh dan gendut. Melihat bentuknya yang kurus kering tapi perut gendut, aku mikir, anjing ini pasti cacingan. 

Selasa pagi, waktu meriksa Timmy, aku lihat ada 2 pup encer dan 3 bekas muntahan yang berbentuk (bentuk nasi dan makanan anjing). Kupikir, wah dia muntah karena cacing seliweran di tubuhnya, nih. Jadi aku langsung beli drontal dan kasih Timmy drontal anjing 1/4 porsi.

Hari Selasa itu, dia ga mau makan sama sekali. Tapi Timmy masih mau minum. Dia enggak pup dan enggak muntah. Aku putuskan, kalau Rabu pagi Timmy masih belum mau makan, aku bawa dia ke dokter. Selasa aku coba nyari makanan yang sekiranya Timmy mau, tapi dia tetap ga mau makan.

Rabu pagi, Timmy masih nggak mau makan. Jam 8 pagi aku pergi ke Apositive Petshop. Di sana dokternya selalu ada, aku pernah bawa anjingku, Poe, ke sana ketika kukunya patah dan aku suka sama pelayanan dokternya. Aku sampai di Apositive jam 8.90 pagi, tapi ternyata tutup. Entah masih belum buka atau memang tutup. Kupikir, ya sudah, sekarang ambil uang aja trus panggil dokter ke rumah.

Tapi biasanya kalau panggil vet ke rumah, datangnya nggak bisa dipastikan saat itu juga. Bisa ntar sore, bisa malem, tentu saja sesuai kebijakan dokter terkait. Jadi sebenarnya opsi panggil dokter adalah opsi terakhirku.

Kemudian aku baru ingat kalau dekat rumahku ada Ocan Petshop, dan di sana juga ada dokter yang pernah nanganin anjingku yang sebelumnya. Jadi aku ke sana dulu. Tempatnya sudah pindah ternyata, meski cuma geser beberapa ratus meter.

Di sana, Timmy diperiksa, dan dugaan pertama yang muncul dari dokter adalah: parvo.

Duh, aku langsung takut, soalnya anak anjing yang kena parvo seringnya ga hidup lebih dari sekian hari.

Lalu aku menerangkan pupnya, muntahnya, dan dokter nanya apa ada anjing sakit atau enggak di sekitar situ, dan segala pemeriksaan lain, kemudian Timmy diinfus (karena katanya dehidrasi) dan dikasih minum madu, dan disuntik.

Dokternya ngendus bau mulutnya Timmy juga.

Kemudian katanya (syukurlah) bukan parvo. Katanya, kalau parvo itu pupnya ada darahnya, dan anjingnya ga akan mau minum madu. Timmy dikasih obat untuk radang tenggorokannya (karena muntah, jd tenggorokannya radang) yang harus diminum 2x sehari 0.4ml.

Dokter juga bilang, bisa aja sakitnya karena aku mandiin terlalu pagi. Jam yang bagus untuk mandiin anjing adalah jam 10 pagi- 03 sore. Di luar jam itu, jangan. Dan setelah mandiin, badan anjing diusap pakai kanebo kering, jangan langsung handuk. Gitu.

Sekarang Timmy masih lemes, tapi dia bisa jalan ke sana ke sini untuk nyari minum.

Dia pup lagi, encer. Setelah aku cek, ada cacing gelangnya, masih setengah hidup. Mungkin dia lemas karena cacing-cacingnya? Kuharap Timmy cepat sembuh.

IMG_20190904_163201

A Dog Named Timmy (kedatangan)

Aku cukup kaget ketika temennya kakakku, Mbak E, chat ke instagram aku hari Sabtu sore. Katanya ada bayi anjing datang ke kamar dia, dan dia nanya apa aku bisa piara (aku punya anjing 1). Mbak E nggak bisa piara karena di rumah dia ada banyak kucing. Mbak E juga udah usaha nyari tahu keliling kampungnya, apakah ada yang piara atau kehilangan anjing. Ternyata ga ada, karena itulah aku dihubungi.

Anak anjing yang dimaksud kurus banget dan kecil. Mungkin umurnya sekitar 3-7 bulan. Dia penuh kutu dan caplak, daripada anjing dia lebih mirip makanan kutu.

IMG_20190831_212933

Kami berusaha bersihin caplak-caplaknya, dan butuh waktu lama banget (itu pun masih belum bersih bener). Kami belum bawa dia ke dokter karena waktu itu sudah malam dan aku takut dia stress kalau dibawa-bawa ke tempat-tempat asing.

Anak anjing ini nggak pemalu. Dia aktif, energik, dan nggak ribut. Dia anjing baik.

Akhirnya aku adopsi. Lagi pula sudah sejak lama aku ingin cari teman baru untuk Poe, supaya Poe nggak kesepian di rumah.

Dia betina, tapi kuberi nama Timmy, seperti nama anjingnya George di Lima Sekawan.

IMG_20190903_080411

Protected: Rant

This content is password protected. To view it please enter your password below:

Bunuh diri itu …

Di dekat rumahku ada sekolah mungil. Selama beberapa bulan di tahun 2016 aku mengisi posisi pustakawan di sana.

Perpustakaan ada di bangunan sebelah barat, jadi satu lantai dengan bagian administrasi dan ada tepat di bawah lantai kelas satu dan tiga.

Ada satu anak kelas tiga yang ‘sulit’, namanya Lukas. Dia nggak mau belajar, nggak mau kumpul sama teman-temannya, nggak mau makan siang di sekolah (makan siang disediakan sekolah).

Lukas selalu bolos kelas untuk nongkrong di perpustakaan. Otomatis kami jadi dekat.

Menurutku, Lukas anak yang pintar. Dia hafal sekali semua merek mobil dan tipe-tipenya, dia tertarik pada laut dalam, keingintahuannya besar dan dia selalu punya pertanyaan untuk diajukan. Sayangnya dia nggak tertarik belajar matematika, bahasa Indonesia, atau pelajaran lain. Dia lebih tertarik baca majalah mobil atau mengajukan pertanyaan yang sebelumnya sudah pernah dia ajukan ke orang lain (biasanya ke guru lesnya).

Pertanyaan yang dia ajukan bermacam-macam dari soal, “Kenapa di laut gelap?” sampai “Tuhan itu ada beneran?”

Kadang pertanyaannya diulang-ulang atau bahkan sangat mendetail. “Kenapa kok bisa gini?” lalu setelah kujelaskan, dia bakal lanjut mempertanyakan penjelasanku dengan nanya, “kenapa itu kok gitu?”

Pokoknya kejar terus sampai pada titik jemu, aku bakal jawab pertanyaan “kenapa” nya dengan pertanyaan, “iya ya, kenapa ya?” terus menerus.

Ada satu pertanyaan—lebih tepatnya, ada satu peristiwa yang masih kuingat jelas sampai sekarang.

Waktu itu kelas sudah selesai. Di belakang komputer admin ada Mas G, di balik meja Kepsek ada Mas Kepsek (mejanya dia ada di lantai 1 juga, di samping barat meja admin), dan di depan rak buku ada wali kelasnya Lukas baru milih-milih buku. Aku di meja baca, duduk berhadapan dengan Lukas.

Lukas sibuk bertanya “kenapa bisa” dan aku balas sebisaku, menahan diri untuk ga balas “kenapa ya?” di depan orang-orang. Lalu Lukas sampai pada pertanyaan, “Orang bunuh diri itu dosa gak sih?”

Pada waktu itu, aku otomatis jawab, “Enggak.”

Lalu ruangan sunyi. Bunyi ketik keyboard, bunyi kertas dibalik, dan bunyi senandung wali kelasnya Lukas berhenti.

Aku berdehem lalu melanjutkan, “Dosa itu kalau membunuh orang lain.”

Yah, dalam beberapa agama, dogmanya beda sih. Tapi Lukas kan tanya aku.

“Kata Pak Nur, bunuh diri itu dosa,” lanjut Lukas.

Pak Nur ini guru les Lukas. Kadang aku gergetan pengen tahu apa aja sih omongan guru les ini sampe pake bahas soal bunuh diri segala ke Lukas.

Aku lanjut bilang, “Dosa atau ga dosa itu yang menentukan Tuhan, bukan manusia.”

Lalu Lukas mengangguk-angguk dan lanjut membaca majalah mobilnya. Staff yang lain pelan-pelan melanjutkan kegiatannya meski aku merasakan ada suasana ketidaksetujuan atas jawabanku.

Aku sendiri nggak setuju kok. Aku menyesal nggak memberi jawaban yang komplit pada Lukas dan berhenti pada titik “nggak dosa”. Fokusnya harusnya bukan pada dosa, tapi pada hidup itu sendiri. Dosa cuma konsep abstrak yang dibuat oleh agama sementara hidup adalah hal yang nyata.

Bunuh diri membuat luka bagi yang hidup yang ditinggalkan, bukan membuat dosa.

Kadang aku masih terus memikirkan peristiwa ini, memikirkan bagaimana harusnya aku nggak berhenti di satu titik dan terus menjelaskan maksudku sejernih mungkin supaya nggak ada salah persepsi, juga bahwa seharusnya aku menggali lebih dalam maksud di balik pertanyaan itu. Apa cuma iseng? Apa ada suatu cerita di baliknya? Aku apatis, dan aku masih menyesalinya. Sesal ini memang sengaja aku simpan dengan hati-hati supaya ke depannya aku nggak membuat kesalahan yang sama.

Lukas pindah sekolah sebelum aku sempat melanjutkan dialog kami, dan kuharap aku nggak memberi pemahaman yang aneh pada bocah itu.

Drama di Platform Menulis #3

Aku dapat banyak pesan yang menanyakan sekaligus mengklarifikasi apa maksud twit-ku, ga jarang banyak yg nebak-nebak tapi salah. Aku juga nulisnya berantakan sih di sana, jadi ga heran banyak yang bingung atau salah mengambil kesimpulan.

Daripada susah jelasin satu-satu, aku rekap di sini aja ya, kalian bisa baca sendiri karena ini panjang. Ini drama yg terjadi di platform menulis yang aku ceburi. Ini kejadian dimulai sejak tahun 2016, yang hobi banget diungkit meski sekarang udah tahun 2019.

Ini kelanjutan dari post Drama di Platform Menulis #2

Continue reading →

Drama di Platform Menulis #2

Aku dapat banyak pesan yang menanyakan sekaligus mengklarifikasi apa maksud twit-ku, ga jarang banyak yg nebak-nebak tapi salah. Aku juga nulisnya berantakan sih di sana, jadi ga heran banyak yang bingung atau salah mengambil kesimpulan.

Daripada susah jelasin satu-satu, aku rekap di sini aja ya, kalian bisa baca sendiri karena ini panjang. Ini drama yg terjadi di platform menulis yang aku ceburi. Ini kejadian dimulai sejak tahun 2016, yang hobi banget diungkit meski sekarang udah tahun 2019.

Ini kelanjutan dari post Drama di Platform Menulis #1

Continue reading →

Drama di Platform Menulis #1

Aku dapat banyak pesan yang menanyakan sekaligus mengklarifikasi apa maksud twit-ku, ga jarang banyak yg nebak-nebak tapi salah. Aku juga nulisnya berantakan sih di sana, jadi ga heran banyak yang bingung atau salah mengambil kesimpulan.

Daripada susah jelasin satu-satu, aku rekap di sini aja ya, kalian bisa baca sendiri karena ini panjang. Ini drama yg terjadi di platform menulis yang aku ceburi. Ini kejadian dimulai sejak tahun 2016, yang hobi banget diungkit meski sekarang udah tahun 2019.

Continue reading →

Imitasi; sebuah unek-unek

Setelah mengalami proses evolusi yang lama, kita akhirnya menjadi manusia. Tapi itu bahkan belum cukup, maka manusia mencari makna diri, mencari sebuah bukti eksistensi. Manusia ingin menjadi suatu individu, memiliki identitas yang berbeda dengan sesamanya, yang diupayakan lewat karya.

Karya adalah bukti bahwa individu tadi pernah hidup. Banyak yang cukup puas meninggalkan “karya” berupa keturunan, yang bakal mengingat namanya selama, syukur-syukur, tujuh generasi. Namun lebih banyak lagi yang ingin punya karya lebih dahsyat, bukti kehadiran yang lebih besar. Nama yang dicetak pada sejarah, misalnya … tak peduli itu sejarah kelam atau cerah. Toh yang menentukan ukuran brightness dan contrasts-nya nanti bisa diatur.

images (16)

Lepas dari tingkat kecerahan(maupun kekelaman)nya, sebuah karya atau hasil cipta tetap merupakan bukti suatu eksistensi, juga sebuah tujuan. Manusia, bagaimanapun, masih banyak yang sulit menerima keberadaan dirinya hanya ada karena “kecelakaan kosmik” belaka. Sebuah kehadiran yang kebetulan bukan ide yang romantis. Itu lawak. Sisi romantis dan petualang pada diri kita ingin percaya bahwa manusia hadir dengan sebuah—atau, kalau boleh, beberapa buah—tujuan mulia. Kalau enggak mulia, paling enggak tujuan heroik lah.

images (17)

Karena kita terlalu takut berjalan tanpa sandaran.

Kita ingin hidup memiliki makna, memiliki bekas, bukan hanya jadi nama yang sekadar lewat di catatan sipil.

Kita semua mungkin pernah (atau sering) ketemu sama orang yang berusaha terlalu keras untuk jadi sebuah eksistensi yang diakui dengan meninggikan diri. Orang-orang ini muncul dari beragam kalangan: berpendidikan maupun miskin edukasi, rendahan maupun tinggian (juga sedengan lol), muda maupun pura-pura masih muda 😏 hehe.

Dan biasanya orang-orang semacam ini jarang yang berhasil jadi orang. Seperti yang sudah tertulis dalam kitab; barangsiapa meninggikan diri sendiri, ia akan direndahkan.

Paradoks kuno sih itu.

Orang yang meninggikan diri dengan mengecilkan dirinya sendiri ya hanya akan tumbuh sekecil yang dia humblebrag-in (istilah apa pula ini).

Kesalahan ini yang sering dilakukan dalam praktik-praktik beragama, jatuhnya jadi hipokrit.

Continue reading →

Somali and the Forest Spirit

1 (1).jpg

Komik yang lagi kubaca (on line) sekarang adalah Somali.

Seorang anak manusia, Somali, ditemukan oleh sesosok golem, keduanya kemudian melakukan perjalanan bersama untuk mencari keberadaan orang tua Somali.

4.jpg

5

baca dari kiri ke kanan

Dunia dalam cerita berlatar fantasi, ketika ras manusia sudah punah dan bumi dikuasi ras non-manusia. Pada awalnya, manusia dan para makhluk ini hidup berdampingan, tetapi seiring waktu, suara-suara buruk mulai muncul. Mereka bergosip, menemukan keburukan satu dengan yang lain untuk dipermasalahkan, mengangkat perbedaan di antara mereka untuk jadi konflik. Kemudian perang pecah. Manusia kalah. 16.jpg

Manusia yang tersisa dari “Perburuan Manusia” dijadikan makanan atau peliharaan. Karena itu, golem menyembunyikan wujud Somali dalam kostum minotaur.10.jpg

Golem sebenarnya adalah penjaga hutan, entitas yang menjaga keseimbangan dalam dunia tersebut. Ia tidak perlu makan, minum, atau tidur; dan mampu melihat detail dalam setiap benda yang ada di depannya. 14.jpg

23.jpg

ups, ada salah ketik. Dialog Pedagang di panel : “Masa [menyentuh] batu berharga seperti itu dg tangan telanjang”

Berjalan bersama Somali yang selalu lari ke sana-ke sini karena rasa ingin tahunya cukup membuat Golem repot. Anak itu sering menghilang!26.jpg

Ini cerita yang imut-imut dan maniiiisss banget, dengan gambar yang manis dan detail (kamu bakal kagum liat kedetilan gambar yang bikin hati hangat ini!), bikin terharu dan jatuh cinta langung di chapter pertama~!

Dunia fantasinya, sejarah tentang dunia ini, petualangannya, slice of life-nya, dan ke-i-mu-tan-nya, semuanya layak banget dibaca! Direkomendasikan untuk orang-orang yang doyan cerita ringan, fantasy-slice of life, hubungan keluarga, hubungan ayah dan anak, serta non-human story. 🙂

Sayangnya, aku belum nemu buku ini di Gramedia. Semoga aja segera terbit~ yang mau intip-intip dulu ceritanya dalam bahasa Inggris, bisa cek di mangapark~

Jangan lupa beli buku aslinya kalau sudah sampai di Indonesia, yaa. Dukung pengarang dengan selalu membeli buku mereka 😀

Alice

Ada satu cerita klasik tentang anak perempuan yang mengejar kelinci putih lalu jatuh ke dalam lubang gelap yang seolah tidak berdasar. 

49c306154adc0a4ae7f45b7a68dd4d69

Continue reading →

%d bloggers like this: