She Is The Paradox

Times New Woman

Another heavy-class thriller in Storial. One of the best, I bet. Percayalah tidak ada yang tidak terpikat pada cerita ini sejak bab pertama. Dibuka dengan adegan pembunuhan yang cerdas, anggun, dan narasi yang dinamis, Narazwei sukses mengajak pembaca lintas genre untuk menceburkan diri dalam-dalam ke peliknya perpolitikan di negara pecahan Indonesia, Nusa Antara.

Kata Nara, tidak ada tokoh utama di cerita ini. Namun para pembaca menetapkan hati pada Forte, agen Carrier yang bertugas mengantarkan kematian. Kebayang kerennya kayak apa. Dengan keahlian seabrek dan kepandaian bersilat lidah, Forte jadi begitu seksi di mata para gadis. Tak terhitung berapa cewek yang desperate sama dia, kecuali Kara, gadis yang tinggal satu atap dengannya. Dia satu-satunya yang bikin Forte bersedia melakukan apa saja demi melindunginya.

View original post 295 more words

Death and The Maiden

Kematian adalah salah satu misteri yang ingin diurai manusia. Ada apa di balik kematian itu, apa yang akan terjadi setelah fase kematian makhluk hidup.  Pada awalnya, aku punya berbagai ide tentang fase mati. Mulai dari doktrinasi agama yang kuanut sejak kecil, bahwa kematian adalah kebangkitan kembali bagi kaum beriman, lalu ada lagi pengetahuan tentang api penyucian, limbo, neraka. Setelah makin dewasa, aku diperkenalkan dengan orang-orang yang enggak percaya bahwa ada fase setelah kematian. Bagi mereka, kematian adalah akhir alami dari semua makhluk hidup dan sebaiknya diterima sebagaimana adanya, enggak perlu dipaksa cari dan imani ada apa setelah itu.

Tapi mereka semua bicara soal tempat. Soal sebuah kondisi. Sementara aku ingin mencari sebuah eksistensi.  A being.

Mencari bukan untuk dipercayai sih. Beberapa orang mencari informasi untuk sekadar tahu, demi kepuasan pribadi. Demi koleksi dalam perpustakaan otak. Aku enggak akan bilang bahwa aku cuma ingin mengoleksi fakta. Aku ingin berimajinasi.

Buatku, kematian sendiri adalah fase yang seksi. Misterius dan gelap, tapi juga sederhana dan dekat. Dijauhi, tapi sekaligus diinginkan. Hubungan apa lagi yang lebih seksi dan romantis daripada ini, sih?

Aku ingin menuangkan imaji itu dalam sebuah cerita. Sebuah pesan. Bahwa kematian pun bicara tentang suatu hal.

Tadinya, aku mau buat judul Kematian di Storial, tapi judul itu sudah ada. Daripada bikin judul “Petualangan Cinta Sang Kematian” yang jelas-jelas panjang dan norak, akhirnya aku ambil kata dasarnya sebagai judul. Mati. 

Itu adalah kumpulan vignette yang panjangnya kurencanakan enggak lebih dari 4 menit tiap bab. Di dalamnya ada percakapan antara Kematian dan Perawan. Kenapa aku pilih Perawan? Mmm, yah, tadinya aku mau pilih Tidur, karena tidur adalah setengah imitasi ringan kematian, kan? Tapi enggak jadi karena rasanya enggak seksi.

Aku ingat pada sebuah lukisan La Jeune Fille et la Mort (Death and The Maiden) milik Marianne Stokes. Di situ ada Kematian yang duduk di ranjang seorang perawan. Kelihatannya begitu indah, begitu manis, sangat kontras. Lebih kontras daripada Kematian dan Kehidupan. Keduanya, gadis perawan dan kematian ini, sudah sering digambarkan bersama dalam banyak cerita, banyak lukisan dan gambar. Dan aku merasa mereka memang pasangan yang tepat.

Bagaimana wajah kematian sebenarnya? Aku belum memutuskan. Untuk sementara, kubiarkan dia faceless dalam cerita. Sementara untuk gadis perawannya, aku masih bingung mau pakai gaya rambut apa. Apakah yang klasik, rambut hitam lurus panjang, atau pendek seperti di gambar >,< aku berencana bikin gambar mereka dan upload di instagram~ hehehe

Ceritaku tentang Kematian dan Gadis bisa dibaca di sini. 🙂

1

 

Masalah

e938b0d234309dd83bf79f8e847b2dbaBukowski bilang, the problem with the world is that the intelligent people are full of doubts, while the stupid ones are full of confidence.

Tapi saya menemukan bahwa permasalahannya bukan pada keraguan atau kepercayaan diri. Masalahnya adalah pada sikap apatisme manusia, jilatisme, geblekisme, bigotisme, serta isme-isme lain yang levelnya setara.

Ketika ada satu masalah yang terulang lagi dan lagi dan lagi dan lagi, orang lebih suka diam. Abai. Sebenarnya apa yang mau saya bicarakan? Apa soal kerusuhan di depan Galaxy Mall menjelang Natal? Apa kaset usang soal perdebatan batas toleransi? Boleh lah dimasukkan. Saya bicara soal general, tetapi gak akan memungkiri bahwa berita tersebut lah yang membuat saya teringat untuk menulis blog malam ini.

Berita yang membuat sebagian masyarakat jeblos dalam perdebatan pro dan kontra sementara sebagian lain merasa jenuh, merasa capek dan memilih untuk mengabaikan saja dan menutup mata.

Mereka bilang capai, jenuh lihatnya. Mereka lebih suka hepi-hepi ngomongin ukuran kelamin, mau pakai baju apa, siapa pacaran sama siapa, makan malam nanti apa, dan urusan remeh temeh lainnya. Bukan berarti hal itu enggak bagus. Itu oke banget, daripada bikin ribut.

Ini dia juga masalahnya.

Ketika orang-orang berpikir bahwa sikap abai mereka lebih baik, lebih tinggi, lebih bermoral, lebih intelek daripada kumpulan yang turun ke jalan untuk ribut itu. Padahal faktanya? Enggak jauh beda. Mereka cuma melakukannya dengan cara yang lain.

Kebanyakan malah terkena “Bias Ortu”. Pernah lihat gimana seorang ibu atau bapak, atau keduanya, mengkritisi anak orang lain dengan begitu pedasnya? Pernah lihat bagaimana menggebunya orang menyindir anak orang lain atau pendidikan yang diterimanya? Lalu bagaimana kalau anaknya sendiri yang mendapat, katakanlah, masalah serupa? Kebanyakan orang tua enggak akan mau menerima kenyataan itu. Orang tua cenderung akan membela anaknya sampai mati. Mereka ga akan mau percaya anaknya bisa berkelakuan buruk.

Pasti ada alasannya, anakku gak mungkin kayak gitu.

Atau kalau bukan pembelaan, maka sebuah denial.

Ah, ngaco aja. Pasti bukan anakku yang kayak gitu.

Pembelaan berdasar kepercayaan. Cinta buta.

Seperti itulah manusia dengan kelompoknya. Ketika yang dihadapi adalah wajah buruk salah satu hal yang menjadi labelnya, mereka akan dengan cepat, bahkan tanpa perlu berpikir, menyangkal.

Terbit bias, “Kelompok kami enggak mungkin salah. Kalau pun kelihatannya salah, pasti ada maksud baik di baliknya.”

Sering pula enggak sadar bahwa itu juga yang dipikirkan kelompok lainnya yang beda dari mereka saat berada dalam masalah atau konflik.

Saya sudah enggak lagi heran melihat seorang atau banyak orang yang kelihatannya kritis dan intelek, mampu berpikir luas ketika menilai masalah negara lain atau kelompok masyarakat lain, tetapi ketika disodorkan apa yang dilakukan ‘kelompok’nya, mendadak semua diam. Capek, katanya. Jenuh, kata yang lain. Udah sering terjadi, bisa apa?

Tapi bagian terburuknya bukan itu, melainkan sebagian yang mewajarkan hal tersebut terjadi. Seperti kejadian intimidasi reporter metro kemarin, enggak jarang si sebagian yang pada umumnya bigot ini berpikir, “Halah, cuma segitu. Ini sih masih damai. Masih untung cuma digituin. Coba kalau di tempat lain, udah hujan darah.”

Dan itu diucapkan dengan bangga.

Biar saya ganti dialognya, supaya ada gambaran yang lebih clear.

“Halah, ternyata cuma ditelanjangi. Kayak gitu dibilang gak bermoral. Masih untung cuma digituin. Kalau beneran gak bermoral ya udah abis diperkosa lah. Udah amburadul itu bawahnya.”

Merasa bahwa analoginya berlebihan? Enggak apple to apple? Itu ciri-ciri kena sindrom bias. Kalau yang lain ditindas akan menyerah sambil berkata “menjemukan” lalu mengalihkan topik pada makan apa hari ini, sementara kalau label diri yang disenggol, hati panas murka datang.

Kembali lagi ke pertanyaan awal, apa masalah terbesar bagi dunia ini? Apa masalah utamanya?

Bukan sekadar bigotry, bukan sekadar intoleransi. Bukan sekadar ketidakmampuan untuk menyadari bahwa manusia memang beragam dari pemikiran sampai tampilan luar.

Masalah utamanya adalah sikap abai.

Toh, kejahatan terjadi setiap hari. Toh, tiap tahun pada hari raya agama apa pun pasti akan ada ribut. Toh hal macam ini berulang terus tanpa bisa dikendalikan. Berpikir seperti itu, lalu diam dalam pengabaian ketika timbul konflik.

Well, pemerkosaan terjadi juga setiap hari. Tiap menit. Tiap detik. Tiap saat.

Apa jadinya kalau semua orang capek melihat pemerkosaan, tapi bukannya mencegah, malah abai?

Jangan-jangan malah pake mencibir dan nyalahin korban segala, berpikir bahwa, “Salah sendiri punya bodi kok bohai banget, minta diperkosa.”

Rasa-rasanya kita sekarang sudah masuk dalam masa Schadenfreude, di mana orang-orang menikmati melihat yang lain menggeliat menderita dian tertindas.

Itu bukan lagi abai, bukan lagi apatis, melainkan hilangnya kemampuan berempati.

Lepas dari itu semua, di sinilah kita, manusia, dengan bangga memproklamirkan diri sebagai yang alfa dari segala makhluk; berdiri di titik puncak rantai makanan.

Begitu penasaran pada kehidupan di luar angkasa, begitu bernafsu menaklukkan dimensi lain. Memangnya yakin bakal sanggup menerima perbedaan antar galaksi? Antar sesama manusia aja beda dikit main kepruk.

Sepercik Komen

bloody_love_copy.jpgAkhirnya, Bloody Love akan segera tamat. Enggak tahu harus senang atau sedih deh soal ini (harusnya sih sedih, soalnya kontraknya putus. hahaha).

Soo, bersamaan dengan tamatnya Bloody Love, Novel Nusantara sudah enggak mencari penulis tetap lagi (bukannya berhubungan, tapi ngepas aja waktunya. ehehe)

Ada sedikit penyesalan waktu menyelesaikan 25 bab terakhir. Lagi dan lagi, masalahnya sama, plot hole di mana-mana.

Waktu menulis Bloody Love, aku berkali-kali mandeg ide dan cuma bisa setor 1 bab sehari ke editor. Malah sempet 2 hari absen setor dengan alasan sakit (ya emang sakit, sih. Enggak ngarang ini loh. Hahaha)

Aku kehilangan arah dan tujuan, enggak tahu novel ini sebenernya mau kubawa ke mana. Oke, waktu awal ‘melamar’, aku memang sudah mengajukan kerangka cerita, dengan begitu aku sebenernya memang tahu ceritanya mau dibawa ke mana. Aku tahu harus bagaimana akhirnya (sumpah, bikin cerita dengan ending yang sudah terbayang tuh mempermudah proses, loh). Tapi masalahnya … aku kehilangan arah, ini harus kubagaimanakan supaya aku sendiri tertarik.

Setiap kali menulis, aku punya prinsip harus membuat diriku sendiri tertarik dulu, baru mikirin soal reaksi pembaca. Sayangnya, aku diserang rasa bosan. Aku enggak suka sama karakter Jose. Enggak tertarik. Sempat mengira bahwa aku salah bikin cerita, tapi kemudian baca komen-komen pembaca di aplikasi, banyak yang antusias (padahal mending tampar saja penulis yang moody ini) menunggu lanjutan cerita.

Kalau dilihat sekilas sih, komennya mungkin enggak keliatan terlalu berarti. Cuma selarik dua larik, malah sekata. Enggak sampai detail rinci kayak beberapa komen di web Storial. Tapi bahkan meski mendapat martabak, melihat hitungan pembaca tambah naik, rasanya tetap aja ga ada yang bisa mengalahkan sebuah komen.

Apa ya? Rasanya komen memang sebuah apresiasi yang lebih mengena (fine, gak bisa dibandingin sama meet and greet sih), penulis jadi merasakan juga arus semangat yang dikirim oleh pembaca. Kayak … itu loh, pernah nonton Dragon Ball? Ketika Son Goku dalam keadaan terdesak dan kekuatannya menipis, orang-orang akan mengangkat tangan ke atas dan mengirim bola semangat, kan? Ya, kira-kira semacam itu rasanya. Hahahaha.

Buat yang mau baca Bloody Love, bisa langsung cuss ke sini  atau download aja aplikasi Novel Nusantara di playstore, dan download novel Bloody Love yang bisa dibaca off line di sana 😉

Ilustrasi GATSoS

IMG_20161025_225642.jpg

Ada yang tahu siapa yang lagi kugambar di atas? Eah, Kara dari The Sound of Silence, ada namanya gitu, lol.

Tapi scene di atas enggak ada di novelnya. Bagian Kara membawa bunga (ga usah dibahas, saya gambar emang ga pake penelitian bentuk bungaaa. Huhuhu) sambil memandang tiang listrik bergambar poster lusuh pudar itu adalah scene di cerpen yang diikutsertakan dalam giveaway The Sound of Silence. Hohoho.

Sudah pada tahu, kan soal giveawaynya? Yang nulis cerpen bisa dapat buku Art of War itu? Belum tahu? Gapapa, masih ada waktu buat ikut, meski mepet. Cuss tengok langsung di sini~

Dan scene yg aku ilustrasikan itu kuambil dari sini 

Mau liat juga gimana cerpen partisipan yang lain? Uff keren semua loh meski endingnya unhappy! Cek deh apa versi unhappy ending dr penulis² keren di Storial dg klik link ini

Dann, jangan lupa untuk ikutin giveaway-nya! Batas waktu publishnya tgl 2 Nov pukul 11:59 malam! Masih keburu, kan? Tunggu apa lagi? 😘😘😘

GIVEAWAY BUKU

cunmsi5ukaarucz

Giveaway Uhappy Ending The Sound of Silence

Berhubung novel The Sound of Silence yang kupublish di Storial.co sudah selesai, aku mau bikin giveaway kecil-kecilan, dari buku yang aku sudah punya dan selesai baca~

Akan diambil 2 pemenang untuk giveaway ini. Pemenang pertama dapat dua buah buku, The Art of War dan The Girl Who Saved The King of Sweden (keduanya terjemahan, kok) dan pemenang kedua akan dapat voucher buku Gramedia senilai 50rb plus 1 buah buku misterius 😉

Syaratnya gampang, cukup membaca The Sound of Silence di sini dan bikin cerita bertema Unhappy Ending versimu sendiri dengan menggunakan tokoh di TSOS 😀

Minimal 800 kata, enggak ada batas maksimal. Lalu upload ceritamu di Storial.co dan bagikan link cerita lewat twitter dengan mention @narazwei

Syarat lainnya? Enggak ada! Cuma itu aja 😀

So, tunggu apa lagi? Selamat berkarya, selamat membaca 😉

Menggambar Lagi!

Ups, tentu saja ini bukan gambarku, melainkan Garance Dore. Kalau ditanya, siapa Garance Dore? Dia adalah ilustrator fashion! Sebenernya, kalau boleh jujur, aku sendiri baru tahu siapa dia barusan ini, pas googling. Uhuhu.

Aku dapat nama ini karena meminjam salah satu karyanya untuk sampul free e-book-ku di Storial. Jadi, Storial lagi ngadain event menulis bareng Bernard Batubara, dan aku dapat karya Garance Dore ini waktu lagi kepepet nyari cover buat menghias e-book yang mau kurilis. Untuk ceritanya, bisa cek di link ini.

Nah, jadi, ceritanya aku suka sama gambar yang cuma kudapat dari pinterest itu, makanya aku nyari gambar-gambar lain yang senada. Eh, sekalian ketemu deh siapa ilustratornya. Gambar ilustrasinya bagus-bagus, tapi yang paling bikin aku terkesan adalah gambar yang aku sertakan dalam post ini.

7535f737e7662c29eff7deb12cc2618eSimpel, cuma gambar wajah yang ditutup dengan tangan bersarung hitam. Tapi mata yang terlihat dari sela jarinya, ditambah jenis rambut ikal serta bintik hitam kecil di sudut mata (yang katanya menggambarkan keseksian, menurut standar umum),  kombinasi dari semua itu terasa memesona sekali, membuatku ingin menggambar lagi! Seenggaknya, aku jadi pengin membuat gambar ilustrasi semacam ini.

Menakjubkan sekali, kan, bagaimana sebuah karya yang memiliki jiwa akhirnya berhasil menyentuh penikmatnya, membuat dia (atau dalam hal ini, aku) bukan lagi ingin jadi sekadat penikmat, tapi juga yang memberi inspirasi. Aku juga ingin karyaku nanti mencapai hati seseorang dan memotivasinya untuk melakukan sesuatu.

Yay, terima kasih buat Garance Dore dan web-nya yang asyik dibaca, aku jadi ingin menggambar lagi!

Bloody Love

Bloody Love.jpg

Yeaps, ini adalah novel baruku di Novel Nusantara.

Sebelum ini, aku membuat novel yang berjudul Ordinary Life yang berlatar Jepang dan menggunakan POV 1. Waktu membuat Ordinary Life, aku merasa kesusahan mengekspresikan cerita karena keterbatasan sudut pandang. Aku sering mendapati beberapa orang melakukan perpindahan sudut pandang, POV si X dan POV si Y misalnya, tetapi menggunakan sudut pandang orang pertama. Sayangnya, aku enggak terlalu suka begitu, dan hasilnya ya aku sedikit kepayahan. Ordinary Life tamat di chapter 40, menyusut setelah dia adalah Bloody Love.

Belajar dari Ordinary Life, aku membuat Bloody Love dengan sudut pandang orang ketiga dan pindah set latar ke gaya barat (meski enggak barat banget). 

Bloody Love adalah cerita thriller semi misteri, tentang penyelidikan amatiran Jose Argent (anak keempat di keluarga Argent) menguak apa yang terjadi dengan orang-orang yang hilang di kota Bjork. Satu demi satu penduduk di Kota Bjork menghilang secara misterius.

Higgins, pengurus kuda di keluarga Argent ditemukan mati suatu pagi. Hal yang aneh adalah, mayatnya ditemukan kering tanpa darah. Sejak itu rentetan kematian dan orang hilang mulai muncul dalam jumlah besar. Kecurigaan Jose tertuju pada orang baru di kota tersebut, William. Penyelidikan Jose malah membawa dirinya ke rahasia gelap di Bjork.

Novel ini bisa dibaca gratis di Novel Nusantara, dan bisa juga didownload lewat HP melalui aplikasi Novel Nusantara.

Berikut adalah cuplikan dari bab 2

     “Kenapa, George?” Marco bertanya heran melihat wajah pucat pria itu. “Kau sakit?”

      “Tuan, Higgins sakit.”

      “Sudah kubilang,” Jose membuka tutup pena dengan giginya.

     Marco menggeleng pelan. “Periksakan saja, George. Panggil dokter Rolan.”

      “Tidak, Tuan. Sudah terlambat,” George menjawab pelan. “Higgins sudah meninggal.”

     Tutup pulpen jatuh dari bibir Jose.

Giveaway Buku!

 

 

cover

Hai, hai, ada giveaway nih buat kamu-kamu yang suka banget buku!

Jadi, ceritanya aku berhasil menamatkan satu lagi novel, judulnya The Sound of Silence. Kali ini di portal nulis yang keren, yaitu storial.coContinue reading →

[Review] Halo – Alexandra Adornetto

Review novel Halo karya Alexandra Adornetto

Ceritanya tentang kedatangan tiga malaikat dari surga, Gabriel, Ivy dan yang paling muda (menurut pengarang, malaikat punya umur. lol) Bethany. Mereka punya misi perdamaian dunia di Venus Cove. Selagi Gabriel sibuk main gitar dan Ivy sibuk masak, Bethany masuk sekolah (OMG, lagi lagi school life) dan jatuh cinta sama manusia. Continue reading →

%d bloggers like this: